Pelaminan Rumah Adat

Kami menyediakan dan menyewakan Pelaminan berikut ini :

pelaminan pagaruyungPelaminan Rumah Adat Minang Pagaruyung. Pelaminan ini diambil dari: Istano Basa Pagaruyung atau Istana Besar. Lokasinya di Kenagarian Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Kabupaten ini melabel daerahnya sebagai Pusat Adat dan Budaya Minangkabau. Sebagaimana arsitektur Minang, Istana ini atapnya berbentuk tanduk kerbau. Bangunannya memang besar, terbuat dari kayu dengan ukiran berwarna warni, atap dari ijuk dan tiang tiang besar. Istana ini berlantai tiga dengan kolong. Bagonjongnya berjumlah sebelas. Pelaminan Jawa

 

Pelaminan Adat Jawa Beberapa hal yang paling identik dengan pelaminan adat Jawa adalah berbagai hiasa lampu pernak-pernik, rangkaian tumbuhan dan buah yang disusun dengan bahan dominan janur kuning, serta kursi bagi kedua mempelai serta pengiring. Berikut beberapa aksesoris utama yang harus ada dalam pelaminan Anda. Pertama adalah gebyok. Gebyok adalah sejenis papan besar penuh ukiran yang berbentuk pintu dan jendela rumah Joglo yang merupakan rumah khas daerah Jawa. Gebyok biasanya terbuat dari kayu jati berkualitas dan dihiasi ukiran untuk menambah kesan mewah dan elegan sebuah pelaminan. Bagian ini merupakan bagian inti sekaligus dasar yang paling terlihat dari pelaminan adat Jawa. Gebyok yang menampilkan replika dua pintu diposisikan di belakang mempelai sehingga ia menunjukkan bahwa kedua mempelai akan memasuki pintu atau dunia baru yang berbeda dengan kehidupan mereka sebelumnya. Kedua adalah hiasan bunga yang memenuhi hampir separuh bagian gebyok khususnya bagian atas. Bunga-bunga tersebut biasanya terdiri dari berbagai macam warna dan jenis dan ditata sedemikian rupa untuk menambah keindahan pandangan. Saking banyak dan bertaburnya bunga, bagian atas gebyos kerap tertutupi sehingga yang tampak jelas adalah dua pintu yang merupakan bagian inti gebyos. Makna di balik rangkaian dan taburan bunga tersebut adalah keharuman dan keharmonisan yang diharapkan dapat terus menyertai kedua mempelai dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Ketiga adalah aneka lampu hias yang digantung di hampir seluruh bagian pelaminan. Lampu hias tersebut umumnya digantung di berbagai titik inti sebuah pelaminan untuk menciptkan nuansa lighting yang menrik sehingga perhatian undangan dapat terfokus pada kedua mempelai. Lampu yang dipilih juga bukan sembarang lampu akan tetapi lampu tradisional untuk menambah nuansa adat dalam pelaminan Jawa. Adapun makna lampu hias yang bergelantungan tersebut adalah suatu harapan agar kedua mempelai senantiasa diterangi dengan kebahagiaan.Keempat adalah aksesoris berupa rangkaian berbagai buah dan sayur yang biasanya diletakaan di kedua sisi kursi mempelai. sayur dan buah dengan kualitas terbaik tersebut disusun dan dirangkai sedemikian rupa. Biasanya menggunakan kerangka janur kuning, sehingga terlihat indah dilihat dan padu. Beberapa buah dan sayur yang biasana dijadikan hiasan adalah pisang, apel, nanas, tomat, mentimun, anggur, rambutan, dan lain sebagainya. Makna dan alasan di balik susunan buah dan sayur ini adalah harapan agar mempelai senantiasa dilimpahkn kemakmuran harta. Selain keempat aksesoris inti di atas, terdapat berbagai aksesoris sekunder yang hanya dapat dijumpai di sebagian pelaminan. Beberapa di antarnya adalah kain larik Jawa, gentong yang dipakai dalam acara siraman, patung-patung, pernak-pernik khas Jawa, maupun kain lurik.

Pelaminan Minang BagonjongPelaminan Adat Minang Bagonjong. Pelaminan Bagonjong adalah pelaminan yang mencoba menghadirkan replika rumah gadang di Ranah Minang, yang tentu saja ukurannya lebih besar daripada pelaminan standar. Pengerjaannya lebih rumit dan membutuhkan ruangan yang tinggi; tidak semua gedung pertemuan dapat dipasangi pelaminan bagonjong. Bagi mempelai yang mempergunakan pelaminan bagonjong, kesannya tentu jauh lebih megah dan ekslusif, laksana kita benar-benar berhelat di rumah gadang nun jauh di Ranah Minang. pelaminanMelayu

 

Pelaminan Adat Melayu. Rumah Lancang atau Pencalang merupakan nama salah satu Rumah tradisional masyarakat Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Indonesia. Selain nama Rumah Lancang atau Pencalang, Rumah ini juga dikenal dengan sebutan Rumah Lontik. Disebut Lancang atau Pencalang karena bentuk hiasan kaki dinding depannya mirip perahu, bentuk dinding Rumah yang miring keluar seperti miringnya dinding perahu layar mereka, dan jika dilihat dari jauh bentuk Rumah tersebut seperti Rumah-Rumah perahu yang biasa dibuat penduduk. Sedangkan nama Lontik dipakai karena bentuk perabung (bubungan) atapnya melentik ke atas. Rumah Lancang merupakan Rumah panggung. Tipe konstruksi panggung dipilih untuk menghindari bahaya serangan binatang buas dan terjangan banjir. Di samping itu, ada kebiasaan masyarakat untuk menggunakan kolong rumah sebagai kandang ternak, wadah penyimpanan perahu, tempat bertukang, tempat anak-anak bermain, dan gudang kayu, sebagai persiapan menyambut bulan puasa. Selain itu, pembangunan Rumah berbentuk panggung sehingga untuk memasukinya harus menggunakan tangga yang mempunyai anak tangga berjumlah ganjil, lima, merupakan bentuk ekspresi keyakinan masyarakat. Dinding luar Rumah Lancang seluruhnya miring keluar, berbeda dengan dinding dalam yang tegak lurus. Balok tumpuan dinding luar depan melengkung ke atas, dan, terkadang, disambung dengan ukiran pada sudut-sudut dinding, maka terlihat seperti bentuk perahu. Balok tutup atas dinding juga melengkung meskipun tidak semelengkung balok tumpuan. Lengkungannya mengikuti lengkung sisi bawah bidang atap. Kedua ujung perabung diberi hiasan yang disebut sulo bayung. Sedangkan sayok lalangan merupakan ornamen pada keempat sudut cucuran atap. Bentuk hiasan beragam, ada yang menyerupai bulan sabit, tanduk kerbau, taji dan sebagainya.